Pembangkit Listrik Bebas BBM
Seperti yang telah kita ketahui bersama harga BBM dunia pada semester pertama tahun ini mengalami lonjakan yang sangat tinggi, dari $80 per-barel menjadi sekitar $120 - $130 per-barel, hal ini tentu saja berpengaruh besar pada kondisi dalam negeri kita, sampai akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM untuk menyelamatkan APBN, terlepas dari pro-kontra kenaikan harga minyak itu, dalam postingan kali ini saya ingin membahas alternatif listrik non-BBM.
Energi listrik yang berasal dari BBM, dalam hal ini pembangkitnya memakai BBM untuk beroperasi memang lebih banyak kekurangannya, beberapa diantaranya :
-
BBM berasal dari fosil, sehingga proses pembentukannya membutuhkan waktu yang sangat lama (berabad-abad). Diskontiniu jika sudah habis di eksplorasi.
-
Pembangkitnya menimbulkan polusi dan berpengaruh besar terhadap keselamatan atsmosfir kita, tidak ramah lingkungan.
-
Harga BBM yang terus meroket, mengakibatkan produksi listrik juga bernilai tinggi, kalau tidak disubsidi masyarakat tidak akan mampu membelinya. Ekonomi biaya tinggi.
-
Kondisi terakhir di Indonesia, beberapa daerah mengalami pemadaman listrik bergilir yang sebagian diantaranya disebabkan oleh krisis BBM, terutama daerah yang pembangkitnya 100% memakai BBM, yakni Genset. Hal ini dialami sebagian besar daerah di Kawasan Timur Indonesia.
Untuk skala rumah tangga, dimana pemakaian listrik rata-rata 1300 - 3000 Watt, sebenarnya ada alternatif sumber listrik non BBM, dalam postingan kali ini saya hanya akan membahas 2 alternatif, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA / Wind Power).
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Merupakan pembangkit yang memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penghasil listrik. Energi matahari yang dianugerahkan Tuhan untuk kita. Alat utama untuk menangkap, perubah dan penghasil listrik adalah Photovoltaic atau yang disebut secara umum Modul / Panel Solar Cell.

Dengan alat tersebut sinar matahari dirubah menjadi listrik melalui proses aliran-aliran elektron negatif dan positif didalam cell modul tersebut karena perbedaan electron. Hasil dari aliran elektron-elektron akan menjadi listrik DC yang dapat langsung dimanfatkan untuk mengisi battery / aki sesuai tegangan dan ampere yang diperlukan.
Rata-rata produk modul solar cell yang ada dipasaran menghasilkan tegangan 12 s/d 18 VDC dan ampere antara 0.5 s/d 7 Ampere. Modul juga memiliki kapasitas beraneka ragam mulai kapsitas 10 Watt Peak s/d 200 Watt Peak, juga memiliki type cell monocrystal dan polycrystal. Komponen inti dari sistem PLTS ini meliputi peralatan : Modul Solar Cell, Regulator / controller, Battery / Aki, Inverter DC to AC, Beban / Load.
Di pasaran biasanya dijual dalam bentuk paket, tergantung besar watt nya. Pemakaiannya dapat juga dikombinasikan dengan listrik dari PLN. Pada umumnya digunakan untuk lampu-lampu penerangan di rumah, kantor, tempat ibadah, tempat umum dan yang lagi trend dipakai untuk traffic light / lampu merah.
Instalasi, untuk memasang PLTS, sebenarnya tidak terlalu susah, dapat dikerjakan sendiri kok, komponen utama Solar Panel dipasang menghadap sinar matahari dengan intensitas tinggi, selanjutnya hubungkan dengan Battery untuk media penyimpan energi (arus DC), untuk pemakaian arus AC kita bisa menghubungkan dengan DC to AC Converter dan siap digunakan untuk keperluan rumah tangga (Lampu, TV, Kulkas, dsb). Ingat besaran dayanya, jangan sampai overload.
Harga, inilah yang menjadi kendala utama, investasi awalnya cukup besar, tetapi kalau dihitung dengan penggunaan listrik dari PLN untuk beberapa tahun, tentu bisa sangat hemat, umur ekonomis Solar Panel bisa lebih dari 10 tahun, yang agak singkat Battery (kurang lebih 2 tahun) dan DC to AC Converter (tergantung kualitas perangkatnya). Untuk 50 Watt Peak (wp), dipasaran dijual paket lengkap seharga Rp. 3 juta - Rp. 4 juta. Untuk 100 wp Rp. 4 juta - Rp. 6 juta. Harga Battery bervariasi tergantung merk, biasanya untuk 100 AH sekitar Rp. 1 juta, demikian juga dengan DC-AC Converter harga nya tergantung kapasitas (watt) dan merknya.

Rumah Hemat Energy
Tips untuk membangun PLTS ini, khususnya untuk konsumsi rumah tangga :
- Hitunglah terlebih dahulu pemakaian real di rumah kita, bisa dihitung dari informasi di masing-masing peralatan (spt TV, kulkas, dll) atau diukur pemakaiannya dengan Clamp Meter (diukur besar kuat arusnya).
- Setelah dihitung, tentukan apakah PLTS dipakai sebagai sumber listrik utama, backup atau kombinasi, karena akan mempengaruhi sistem instalasinya nanti. Kalau saya memilih untuk dipakai secara kombinasi dengan PLN, sehingga sedikit demi sedikit bisa mengurangi ketergantungan pada PLN. Misal, kita beli paket 100 wp untuk lampu dulu, kemudian kalau punya uang lagi beli yang 300 wp untuk TV, dst. Terakhir, kita minta orang PLN untuk memutus PLN di rumah kita, he..he..keren kan.
Pembangkit Listrik Tenaga Angin (Wind Power)
Sesuai dengan namanya adalah pembangkit yang memanfaatkan tiupan angin sebagai sumber penghasil listrik. Keren ya, angin bisa jadi listrik, gimana caranya ?. Komponen utama Wind Power adalah Blade (Baling-Baling) yang berputar oleh tiupan angin, putaran blade ini di kopel dengan generator listrik (generator mengubah energi mekanik menjadi listrik).
Pembangkit ini lebih effisien dari pada pembangkit listrik tenaga surya didalam menghasilkan listriknya, karena dapat beroperasi siang malam, yang penting ada angin (PLTS hanya siang), terus di kopel dengan generator, artinya pada saat ada angin, sumber listrik didapat langsung dari generator, bukan dari battery backupnya.

Blade Part
Pembangkit wind power yang ada dipasaran memiliki kapasitas watt per jam 200, 400, 500, 1000, 2000 dan 3000 Watt. Pembangkit ini tidak sembarang dapat digunakan karena medan yang akan dipasang harus memiliki hembusan / kecepatan angin yang tinggi dan stabil. Untuk menggerakan blade / baling-baling agar bisa berputar saja harus memiliki kecepatan angin 2 meter/detik dan untuk menghasilkan listrik yang stabil sesuai kapasitas generatornya rata-rata 6 s/d 10 meter / detik.
Pembangkit ini bisa digunakan untuk skala kecil, menengah dan besar karena arus yang dihasilkan dalam 1 jam lebih besar serta membutuhkan investasi yang lebih murah ketimbang PLTS. Daerah yang cocok digunakan pembangkit ini adalah daerah pantai, pesisir, pegunungan.
Instalasi juga tidak terlalu susah, akan tetapi sedikit memerlukan kemampuan mekanik dan listrik. Mengenai harga, kalau buatan pabrik di pasaran masih sangat mahal, tetapi menurut pak Sugio - sang perancang pembangkit listrik tenaga air dan angin yang berasal dari Balikpapan, menurut perhitungan beliau, 1 (satu) kincir angin dengan kapasitas 1500 watt memerlukan biaya antara Rp 17 juta s/d Rp 25 juta. Jika dikonversi maka investasinya sekitar US $ 1.250 per kw. Kincir angin Bapak Sugio ini sudah banyak dipakai di beberapa daerah di Indonesia, pada umumnya di pakai di kompleks perumahan, warganya iuran untuk membangun beberapa kincir, sehingga biaya investasi dapat lebih terjangkau.
Sayangnya perhatian dan bantuan pemerintah untuk membangun pembangkit listrik alternatif ini masih sangat jauh dari yang diharapkan, ada memang beberapa project atas inisiatif dan biaya pemerintah di KTI, tapi sayangnya terkesan diskontiniu, karena pemerintah hanya membelikan materialnya saja, masyarakat pengguna tidak diberikan keterampilan untuk memeliharanya, akibatnya sebagian warga tergolong miskin yang menerima bantuan tersebut malah rame-rame menjualnya kembali….

Hybrid, Solar Cell dan Wind Power

Texas Wind Power Project
Saya pribadi, pada awalnya lebih tertarik dengan PLTS, tetapi dengan kemunculan Wind Power yang lebih efisien membuat saya tertarik untuk mempelajari lebih jauh.
Angan-angan saya, rumah saya diterangi oleh energi alternatif ini, tidak lagi tergantung pada PLN yang byar-pet, diterangi listrik yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Kuasa….Amiin..
Sumber Bacaan :
- How to Build Your Own Solar Cell - http://www.solideas.com
- Wind Power Montly Magazine - http://www.windpower-monthly.com
- America Wind Energy Association - http://www.awea.org
Comments
19 Comments on Pembangkit Listrik Bebas BBM
-
t on
Sun, 24th Aug 2008 11:19 am
-
Nias Zalukhu on
Sun, 24th Aug 2008 12:21 pm
-
Artha on
Mon, 25th Aug 2008 10:21 am
-
meiy on
Tue, 26th Aug 2008 7:40 am
-
zulmasri on
Thu, 28th Aug 2008 4:38 am
-
Farid on
Thu, 4th Sep 2008 7:11 am
-
okta sihotang on
Thu, 4th Sep 2008 2:44 pm
-
hidayat on
Fri, 5th Sep 2008 9:39 pm
-
didit kurniadi on
Sun, 7th Sep 2008 3:07 pm
-
Masenchipz on
Thu, 18th Sep 2008 1:28 am
-
tanahsirah on
Fri, 26th Sep 2008 7:21 am
-
ianbali on
Mon, 13th Oct 2008 3:21 am
-
praditya firmansyah on
Fri, 17th Oct 2008 3:54 am
-
dika on
Sat, 25th Oct 2008 9:37 am
-
susan on
Tue, 25th Nov 2008 6:20 am
-
helen on
Tue, 31st Mar 2009 12:49 pm
-
fadjar on
Sun, 21st Jun 2009 12:45 pm
-
Andi Akbarq on
Thu, 24th Sep 2009 9:40 am
-
Yan on
Thu, 29th Oct 2009 6:42 am
Pak, kalo PLTS itu, gimana kalo cuaca menduuuung terus?
dD : PLTS kan dilengkapi Battery, kalau mendung terus ya tergantung kondisi battery nya… Cuaca boleh mendung, hati dan pikiran harus tetap cerah (gak nyambung ya)
…
Wah berguna banget nih di saat krisis listrik saat ini
dD : eh.. ada tetangga (:D Nias gak jauh dari Padang), thanks Pak Augus udah mampir…. Memang perlu banget Pak, lagi byar-pet gini…
Tenaga surya wah asik juga nih Pak, mau explor dulu deh yach pak
dD : Wind Power sudah duluan dibangun di Nusa Penida Pak Artha…
paralu dibao pulang dulu ko ded, uni tertarik tp utk serius ngerti hrs diprint keknya
baa kaba? lamo indak BW, uni sibuk jalan2 hehe
dD : Kaba baiak Ni, wak lai acok ka tampek Uni mah, caliak2 kalau adoh nan baru
… Sumber energi alternatif ko cocok di pelosok Ni…
Ide yg bagus, apalagi bila didukung komponen yg gampang dicari dan murah dalam biaya.
Saya sdh cari dibeberapa iklan, tapi harganya masih >3.5 jt, kira2 ada nggak ya yang harganya <2,5jt, karena banyak teman saya yang tinggalnya ditengah kebon sawit, jauh dari jalan raya dan PLN, jadi kalau harganya ada yang murah kan saya bisa jualan, ya untung 15%-20%jadilah.
Kalau ada yang punya informasi tolong dong, bantu info saya. Tks
wah..moga2 bisa dikembangkan diindonesia ![]()
keren2..energi alternatif
Dengan PLTS anda gratis biaya listrik??? yaa jelas tidaklaah. Ingat dalam komponen PLTS / sebut saja salah satu aplikasinya adalah SHS (Solar Homes System), ada komponen ACCU yang umurnya kalau dirata rata hanya 5 tahun alias 60 Bulan. ini artinya anda masih harus membayar seharga 1/60 x harga ACCU.
BTW - PLTS tetap sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan energi untuk system penerangan di area yang belum terjangkau PLN. Meski harus membayar 1/60 x harga Accu, jelas hitungan ini masih lebih menguntungkan jika dibanding harus tetap mengkonsumsi minyak tanah yang harganya terus naik. (ini asumsinya harga ACCU juga nggak ikut – ikutan naik seperti naiknya harga minyak lho).
Untuk daerah yang sudah dilayani PLN, saya hanya menganjurkan agar kita mulai menyadari bahwa tarif PLN kita ternyata masih SANGAT SANGAT murah. ini terbukti dari analisis ROI pembangunan PLTS yang belum feasible jika dibanding dengan harga listrik PLN. Anda jangan mengharap mendapatkan efisiensi biaya dengan cara membangun PLTS di daerah yang sudah dilayani PLN. Kecuali ada tujuan lain : untuk bidang keilmuan dan riset atau setidaknya sebagai partisipasi anda dalam ikut mengurangi dampak global warming 1000% saya dukung, apalagi kalau proyeknya melibatkan saya. ha ha ha …
Truss apa dong jalan lain untuk menekan biaya lkistrik rumah kita? SAATNYA ANDA MULAI BERFIKIR UNTUK BERMIGRASI dari system penerangan konvensional menggunakan jenis lampu Bohlam Pijar, Lampu Neon / lampu hemat energi CFL ke system penerangan dengan menggunakan lampu LED.
Mahalkah? yess. Untuk 1 lampu dengan rating daya 15 watt saja harganya sekitar USD, 60/ buah = Rp. 550.000/ buah - tapi anda harus tahu dulu bahwa lampu LUMENT (Level Cahaya ) LED 15 Watt tersebut sudah setara dengan lampu neon biasa 40 watt dan umurnya dijanjikan bisa minimum 8 tahun.
Yang pertama tama perlu dilakukan adalah merubah dulu mind set kita tentang system penerangan yang benar sbb: Yang kita butuhkan dari sebuah lampu penerangan adalah seterang apa lampu tersebut - bukan berapa watt daya lampu tersebut. Karena teknologi telah mampu menciptakan system LED dengan daya rendah tetapi memiliki level cahaya (lument) setara dengan lampu konvensional yang Watt-nya lebih tinggi. Kok bisa? ya bisa, karena LED memiliki efisiensi terbaik diantara semua jenis loampu yang ada saat ini plus tehnologi optis yang terus dikembangkan dalam LED
Yang ingin saya katakan adalah: dalam jangka panjang pemakaian LED tetap JAUH lebih hemat dibanding dengan lampu jenis apapun yang ada dipasaran saat ini. Belum lagi LED memiliki daya tahan yang diatas 8 tahun - bandingkan dengan TL biasa yang hanya rata rata 3 - 4 tahun sudah harus ganti.
Ini contoh study kasusnya.
Sebuah pabrik sepatu yang membutuhkan system penerangan 24 Jam akan mengganti 1000 buah lampu TL biasa 40 watt / 120 cm dengan 1000 lampu TL jenis LED pada line produksinya.
Untuk mengganti 1000 lampu tersebut diperlukan sedikitnya investasi sebesar 1000 x Rp. 550.000 = Rp. 550.000.000,- !!!!!!! Feasiblekah ini? mari kita hitung:
1. Perbandingan konsumsi listrik :
- Untuk Lampu TL biasa dibutuhkan 1000 x 40 watt x 24 x 365 = 350.400Kwh/tahun = Rp. 280.320.000 (jika tarif listrik Industri = Rp.800/Kwh)
- Untuk Lampu TL - LED dibutuhkan 1000 x 15 watt x 24 x 365 = 131.400Kwh/tahun = Rp. 105.120.000 (jika tarif listrik Industri = Rp.800/Kwh).
selisih biaya per-tahun = Rp. 175.200.000,-
2. Biaya penggantian 1000 unit lampu TL Biasa dengan 1000 TL LED adalah
1000 x Rp. 550.000 = Rp. 550.000.000,-
Dari hitungan diatas maka secara sederhana dapat kita hitung bahwa biaya sebesar Rp. 550.000.000,- akan BEP oleh efisiensi yang didapat dalam waktu kurang lebih 3.14 Tahun. ( Rp. 550.000.000 / 175.200.000)
Kalau asumsi umur Lampu LED adalah 8 tahun, maka selama masa pemakaian LED 8 tahun, akan didapat efisiensi murni sebesar : Rp. 851.400.000,- jika dibanding kita tetap mempertahankan system lampu lama yang menggunakan jenis TL Biasa.
Efisiensi ini akan semakin bertambah kalau kita juga menghitung bahwa untuk masa 8 tahun tersebut lampu TL biasa membutuhkan penggantian sedikitnya 2 x 1000 unit.
Dari hitungan diatas, maka rekomendasi hanya ditujukan kepada pelaku industri yang membutuhkan system penerangan lebih dari 15 jam per-hari. Pabrik Sepatu, Garment, Industri Manufacture, Hotel, Mall dll
TAPI, saya belum menganjurkan pemakaian jenis LED ini untuk skala rumah tangga saat ini, karena harga belinya belum bagus. Tunggulah 2 atau 3 tahun lagi saat jenis lampu ini makin populer maka harganya pasti akan turun. Harapan dan prediksi saya : harga lampu LED ini nasibnya tidak akan jauh beda dengan Hand-phone - Mahal di awal pemunculan dan terus turun saat populasinya sudah tinggi. Semoga!!!!
Salam
Kurniadi // 0818 0410 0661
PT. Indrajaya Instruments.
wah… mantap… perlu disosialisasikan om… dan tentunya di implementasikan..
Semoga energi alternatif ini bisa segera di implementasikan dengan dukungan penuh dari pemerintah agar negeri ini bisa segera keluar dari krisi energi.
Wah seru neh mas, kalo punya pembangkit sendiri di rumah, pasti bisa nge-hemat biaya hidup n di sayang istri tentunya….
wah mantap juga bos .untuk masa sekarng yang kesulitan dan harga BBM yang tidak mau kompromi lagi. maka pembangkit bebas BBM adalah solusi yang tepat yang bisa digunkan oleh kalangan rumah tangga. oh iya tolong biaya kalo bisa dicantumkan juga untuk kebutuhan rumah tangga untuk kebutuhan daya 900-1300 W. jadi agar bisa dihitung brp investasi yang dibutuhkan dibanding dengan membyar listrik dari PLN. maju terus ……
tunjukin donk lebih lengkapnya tuk tugas gue.
gimana dond cara pesan dan konsul mengenae listrik tenaga angin buat rumahku?
1). gimana tekno ekonomi pembangkit listrik tenaga surya untuk penerangan
jalan umum?
2). gimana proses dan prinsip kerja dari matahari sampai penerangan pada
malam hari?
bright idea
Saya punya pembangkit listrik yang lain daripada semua yang bapak tampilkan, pembangkit listrik temuan saya benar-benar bebas energi, dan tidak tergantung pada alam sebagaimana kendala yang ditemui pada semua pembangkit listrik di atas, pembangkit listrik temuan saya dalam beroperasi, tidak mengandalkan alam sebagai sumber energinya, sehingga cocok dimana dan kapan saja.
untuk info lebih lanjut hubungi saya di e-mail saya andiakbar_bone@ymail.com
Mengutip tulisan contack Person :
Pak Sugio - sang perancang pembangkit listrik tenaga air dan angin yang berasal dari Balikpapan, menurut perhitungan beliau, 1 (satu) kincir angin dengan kapasitas 1500 watt memerlukan biaya antara Rp 17 juta s/d Rp 25 juta.
Mohon Info Alamat dan Nomor telepon yang dapat dihubungi.
Terima kasih.
Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!










