Mencoba membeli waktu

August 31, 2008 by Deddy
Filed under: Selingan 

Sobat tentunya masih ingat beberapa iklan penokohan diri dari beberapa orang Indonesia di TV dan Media lainnya. Ada iklan Rizal Malaranggeng, Sutrisno Bachir, Prabowo dan beberapa iklan calon gubernur / pemimpin daerah lainnya.

Karena saya sudah berkomitmen tidak akan membicarakan politik praktis di blog ini maka kali ini saya coba mengulas topik diatas dari sisi yang lain.

Menurut sejarah dan logika, ketokohan seseorang diakui masyarakat setelah melalui rentang waktu yang sangat panjang, melalui jalan berliku penuh rintangan, melalui karya nyata orang tersebut yang dirasakan positif oleh masyarakat.

Bung Hatta misalnya, proses penokohannya dimulai sejak sekolah MULO di Padang dan bergabung di Jong Sumatranen Bond pada tahun 1916. Tahun 1924 ia membuat majalah Indonesia Merdeka. Menempuh pendidikan di Belanda dan kembali tahun 1933. Sejak itu ia aktif menulis tentang pergerakan dan dibuang ke Boven Digoel (Papua) tahun 1935. Kembali ke Jawa tahun 1942 dan memulai lagi pergerakan menuju Indonesia Merdeka bersama Sjahrir. Tahun 1945 memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan setelah itu, Hatta aktif membangun dan memperkenalkan Indonesia ke luar negeri. Tahun 1953 Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia karena peran aktifnya membangun gerakan koperasi di Tanah Air…

Begitu panjang jalan yang dilalui Bung Hatta sampai dia mendapatkan pengakuan dari masyarakat dan dunia sebagai seorang tokoh. Begitu banyak proses yang ia lalui.

Waktu dan proses itulah yang kini coba disingkat oleh tokoh-tokoh yang saya sebutkan pertama kali tadi. Mereka mencoba mempersingkat waktu 20 tahun prosesi penokohan menjadi 20 detik spot iklan di media elektronik, dan berharap apa yang telah diperbuatnya yang ditayangkan 20 detik mendapat pengakuan dari masyarakat. Mereka juga mempersingkat proses dan menukarnya dengan sekian miliar rupiah biaya iklan.

Berhasilkah cara ini ? berhasilkah Rizal Malaranggeng, Sutrisno Bachir dan lainnya mendapat pengakuan masyarakat ? Ironisnya, hanya waktu jua lah yang akan menjawabnya. Tapi paling tidak mereka sudah berusaha, sudah mencoba jalan lain untuk sebuah pengakuan. Tinggal saya, sobat dan masyarakat lainnya menilai…

Bookmark and Share:

Comments

7 Comments on Mencoba membeli waktu

  1. Renimaldini on Fri, 5th Sep 2008 2:55 am
  2. Orang-orang itu masih berfikir bahwa dengan sering tampil “pamer” wajah ditelevisi, setidaknya masyarakat akan ingat dengan dia. Paling tidak wajah atau nama.
    Tapi, apakah itu cukup? Tentu tidak. Masyarakat pasti lebih pintar. Seperti Rizal Malarangeng, walau wajahnya wara wiri di televisi atau Soetrisnio Bachir hampir di setiap stasiun TV ditemui belum cukup populer di tengah masyarakat..
    Masyarakat bukan butuh figur saja tapi bukti konkritnya…

  3. Catra on Fri, 5th Sep 2008 12:52 pm
  4. bung hatta memang belum bisa tergantikan hingga sekarang

  5. vinna melwanti on Tue, 9th Sep 2008 5:09 am
  6. Tokoh muda sekarang hanya kamuflase..

  7. meiy on Wed, 10th Sep 2008 8:07 am
  8. berhasil buat yg bisa dibeli ded.

    lai lamak puaso di rantau?

  9. hendri on Wed, 10th Sep 2008 2:35 pm
  10. itulah masalah bangsa ini….mereka nganggap semua bisa dibeli

  11. avartara on Thu, 11th Sep 2008 2:16 pm
  12. Masak di “karbit” itu pasti agak kurang lamak yo da,….. begitulah saat ini,.. semua serba instan,.. tanpa melalui proses panjang yang penuh rintangan,… hasilnya ?
    Awak lah pindah kini da ka http://avartara.com

  13. tukangobatbersahaja on Fri, 12th Sep 2008 5:47 am
  14. Memang dengan adanya media semakin mudah orang dapat mencitrakan diri sesuai dengan keinginannya.
    tapi jika membangun kualitas diri dengan kepura-puraan hanya tinggal waktu untuk mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!